Biola dan Orkestra Alam -by Esti Luna

Biola dan Orkestra Alam
01
Sosok itu berdiri tepat menghadap Taman Lingkar dan danau UI yang yang terhalang kaca besar di depannya. Bukan gelombang tenang air danau yang dipandangi, justru sekumpulan objek lain yang duduk melingkar di Taman Lingkar. Sekumpulan orang, laki-laki dan perempuan yang duduk tertata di Taman Lingkar memainkan biola. Sosok itu cukup lama berdiri memperhatikan kumpulan orang di sana. Ia berdiri dan memasukkan kedua tangan ke saku. Mengembangkan senyum, memejamkan mata mencoba mendengar sayup-sayup gesekan string biola dengan bownya.
“Sebentar lagi itu adalah tempatku juga” bisiknya lirih, kemudian beranjak pergi, berlalu.
Angin
Cahaya
Gemerisik daun
Suara
Ssstt, diamlah. Diamlah sejenak sebelum membaca ini. Coba dengarkan harmoni itu. Sebentar saja, pejamkan matamu dan rasakan. Angin, cahaya, gemerisik daun, dan suara. Iya, itu, harmoni yang berbeda kemudian padu dalam orkestra danau dengan senar airnya yang digesek perlahan, kemudian menimbulkan lingkaran gelombang yang tenang.
            Hei, tunggu! Tunggulah sebentar, jangan bosan membaca.
Angin. Dengarkan bisikannya. Tenanglah, rasakan belaian angin. Belaian angin yang menyapa ‘Hai’ lewat kisi-kisi lubang telingamu, menyentuh tanganmu dengan surai udaranya yang transparan, juga kibasan sayap angin yang mampu menyentak rambutmu, terurai.
Cahaya. Lalu lihatlah ke atas.
Atas? Hanya pohon-pohon tinggi dengan rerimbunan daun yang memayungi manusia-manusia di bawahnya. Apa istimewanya? Ah, cobalah buka matamu, kau pasti merasakan silau bukan? Iya, silau itu, silau dari mentari. Siraman bulir-bulir cahayanya memang terhalang rerimbunan daun, tapi dedaunan pun masih punya celah. Celah yang menjadi lubang bagi mentari untuk menyiramkan spektrum cahayanya ke bawah.
Gemerisik Daun. Sekarang aku bertanya, apa yang kau rasakan ketika angin dan daun berada dalam satu dimensi waktu dan ruang? Deru angin yang mengoyak lembut rerimbunan, bergoyang-goyang, berderak, menyentuh sesama ranting dan menimbulkan rasa takut pada manusia di bawahnya.
“Wow, anginnya kencang sekali! Hati-hati batang-batang itu bisa patah dan menimpa kita.”  seru manusia khawatir.
“Tenanglah, kami tak akan patah dan menimpamu. Ini hanya dawai yang kami mainkan untuk menyaingi gesekan biolamu” kata pohon dan dedaunan tersenyum.
Ah, tapi mana mengerti manusia dengan itu semua. Mungkin hanya satu-dua manusia yang mampu menangkap sandi alam. Paham dengan dialognya dan kemudian hanya tersenyum setelah mengerti.
Suara. Suara? Yang mana? Suara apa? Angin, cahaya, daun, dan suara. Pejamkan lagi matamu. Ada deru angin, siraman cahaya matahari, derak ranting dan dedaunannya, juga suara mendayu dari senar yang beradu dengan benda lainnya. Iya, apalagi kalau bukan biola. Nah, sekarang kau pasti mengerti, bagaimana angin, cahaya, daun, kemudian merdu gesekan biola menyatu padu. Apa ya namanya? Perpaduan orkestra alam dan biola? Ya, bisa jadi.
Putar kembali memorimu, di mana kau mendapatkan momen seperti ini? Jangan terburu-buru, mengingat adalah sebuah proses, pelan-pelan saja. Nah, sudah? Iya, betul sekali. Tiga melodi alam dan suara gesekan biola hanya dapat kalian temukan di Taman Lingkar Perpusat UI hari Sabtu mulai jam 13.00. Hanya ada di sini bukan? Memangnya ada di mana lagi?
            Catat baik-baik, namanya AVC (Autodidact Violin Community). Sebuah komunitas besar gagasan Bang Wando yang concern dalam bidang musik khususnya biola. Kalian akan menemukan sekumpulan orang yang setiap Sabtu mulai pukul 13.00 berlatih biola di Perpus UI. Anggotanya? Siapa saja, siapapun boleh mendaftar menjadi anggota. Ini saja yang saya tahu tentang AVC, selebihnya saya belum mengerti banyak. AVC, nama ini pertama kali saya dengar dari seorang senior yang juga teman dari salah satu coach di AVC.
            Flashback beberapa bulan yang lalu, cerita tentang awal yang mengenaskan antara saya dan biola. Ha, ha, ha bagaimana tidak? Belajar biola dengan kilat dalam waktu tidak genap tiga bulan untuk sebuah pertunjukkan besar. Meskipun hasilnya amat sangat ‘sedikit’ kacau, ya tapi harus bagaimana lagi kecuali kembali pada prinsip ‘datang, mainkan, dan lupakan’. Ha, ha, ha. Oke, cukup dengan cerita buruk itu, dan maka tumbuhlah niat dalam diri untuk kemudian belajar biola dengan baik dan benar. Ya, harus diberi tanda kutip ‘Baik dan benar’. Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta dengan biola? Bisa jadi. Singkatnya, mendaftarlah saya menjadi anggota AVC dan benar-benar belajar dari nol. Dari yang tidak paham dengan not balok atau gambar yang lebih mirip dengan sendok itu, menjadi benar –benar mengerti dan bisa membaca not balok.
“Dan, yeah gue bisa baca not balok sekarang.”
            Hari pertama di AVC, Awesome! Apalagi yang mampu mendamaikan hati jika bukan deru angin yang beradu dengan ranting dan dedaunan, siraman cahaya matahari yang malu-malu mengintip dari celah dedaunan dan background suara dari gesekan biola? AVC adalah tempat di mana kalian ingin menghidupkan kembali hati, jiwa, dan pikiran agar ketiganya mampu bersinergi membentuk karakter diri.
Saya mengerti sekali, belajar bukanlah hal yang instan. Belajar apapun itu. Tapi satu yang menjadi  penentu adalah seberapa mampu bertahan kita dengan proses yang memakan waktu. Untuk mampu bermain biola dengan baik, maka saya harus rajin dan berada dalam trek yang lurus selama proses belajar.
            Biola adalah sepaket dengan hati. Terbukti, berbeda sekali hasilnya ketika menggesek bow dengan asal dan menggesek bow dengan landasan hati. (Ha ha ha, serius ini bukan sejenis kata alay, karena saya bukan penganut paham alay) Ha ha ha. Tapi memang benar, bermainlah biola dengan hati maka melodinya akan sampai pula kepada hati yang lain.
            Sebenarnya untuk belajar sesuatu yang benar-benar baru dan dari nol hanya dibutuhkan satu keberanian dan niat untuk memulai. Memiliki niat, berani, mencari wadah belajar yang sevisi, dan mulailah merangkak perlahan. Semuanya mungkin akan terasa sangat baik di awal, tapi ingatlah, di tengah ada virus malas dan hopeless yang menyerang karena kita tidak memiliki kesabaran dan kesadaran akan sebuah proses. Nikmati prosesnya, jangan hanya terpaku untuk cepat mendapatkan hasil bermain biola dengan sempurna dan berada dalam level yang mahir. Bayi yang notabene diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna di dunia pun harus belajar dari nol untuk bisa berlari kencang, maka tidakkah kita hina jika ingin mendapat segala sesuatu yang terbaik tanpa melalui proses yang panjang?
Ayo kawan, jangan takut belajar hal baru. Seperti AVC, mungkin hal baru untukmu, tapi semangat kami adalah semangat lama, yang terus tumbuh menjadi besar kemudian menjadi semangatmu juga.
Sebentar lagi tahun baru 2014, apa resolusimu? Menjadi violinis mahir? Bersama AVC kita bisa. Semangatku, semangatmu, semangat AVC!!!!
Artikel by Esti Luna
Editor -Mutia Chessar

Fatal error: Uncaught Exception: 12: REST API is deprecated for versions v2.1 and higher (12) thrown in /home/avcwebid/public_html/depok/wp-content/plugins/seo-facebook-comments/facebook/base_facebook.php on line 1273