SEJARAH & SISTEM KERJA

AVC, sebagai keluarga dan komunitas yang memiliki sistem kerja, bukanlah sesuatu yang langsung terbentuk begitu saja. Banyak rangkaian peristiwa terjadi, yang pada akhirnya membentuk AVC seperti yang sekarang ini. Silahkan simak proses kelahiran AVC, dari fase ke fase.

Komunitas Biola Depok

Saat itu, di stasiun Depok Baru. Terdapatlah seorang pemain biola bernama Wando Pirastro. Mas Wando membuka kelas belajar biola yang rutin diadakan di hari minggu. Cukup beragam peserta kelas biola ini. Mulai dari anak-anak SD, musisi-musisi jalan sekitar Depok, sampai beberapa anak kuliah (UI, IPB, dll). Saat itu klub ini bernama “Komunitas Biola Depok”.

Memang. Sejak awal, cita-cita Mas Wando adalah menghilangkan kesenjangan sosial khususnya dalam hal alat musik musik biola. “Miskin maupun kaya, bisa belajar biola”, mungkin itu slogannya. Ada satu lagi: “Yang sudah bisa, mengajarkan yang belum”. Benih-benih filosofi AVC mulai terlihat dari sini. “Otodidak, tapi sebagai sebuah komunitas, sebuah keluarga”.

Meski begitu, Mas Wando dan Mas Wisnu (teman setia beliau) mulai meresa kesulitan dalam pengajaran level teori. Mengingat mereka juga berangkat mempelajari biola tanpa dasar teori yang mumpuni. Bertemulah Mas Wando dengan kawan lama, Mas Yudi. Meminta nasihat dan bantuan untuk berbagi di Komunitas Biola Depok di level teknis dan teori. Mas Yudi ini adalah salah seorang kontributor di Komunitas Taman Seni Indonesia (KOTASENI) Taman Suropati.

Akhirnya mereka bertiga, Mas Wando, Mas Wisnu, dan Mas Yudi mengelola Komunitas Biola Depok. Nama ‘Autodidact Violin Community’ kini telah berubah menjadi ‘Alliance Violin Community’.

Film dokumenter tentang visi Mas Wando di Komunitas Biola Depok

Perpindahan Tempat Latihan

Tempat latihan pertama kali adalah di lantai 2 Stasiun Depok, lalu pindah ke daerah lahan parkir mobil Balairung dekat danau. Semua anak-anak kuliah yang berlatih di stasiun, pindah ke UI.

Tidak seperti lantai 2 stasiun Depok Baru yang cenderung tertutup. Latihan di tempat terbuka di UI memunculkan fenomena baru. Saat latihan, banyak mahasiswa yang tadinya sekedar lewat, berhenti dan menonton. Banyak dari mereka bahkan ingin bergabung, dan belajar biola dari nol. Lambat laun, jumlah anggota AVC di UI jadi semakin banyak.

Buka cabangnya AVC di UI sebenarnya cukup bertepatan dengan selesainya pembangunan perpustakaan pusat UI. Kak Ano, salah satu anggota AVC,  mengurus perijinan agar AVC diperbolehkan berlatih di taman lingkar perpus. Gayung bersambut, pengurus perpustakaan merestui rencana tersebut. Perpustakaan pusat memang dirancang untuk menjadi ruang publik.

page activity

Suasana di AVC, Perpus Pusat UI

Pindah ke perpus pusat yang megah dan banyak pengunjung, membuat makin banyak yang ingin bergabung. Sayangnya, banyak juga yang keluar dari AVC. Hal yang sama juga terjadi di AVC stasiun. Anggota banyak datang dan pergi. Seolah-olah ada batas maksimum jumlah anggota. Jumlah anggota bisa dibilang cukup stagnan.

Hal ini kemungkinan besar disebabkan karena Mas Wando, Mas Wisnu, dan Mas Yudi mulai kewalahan menangangi anggota yang membludak. Belum lagi dengan bentuk sistem belajar yang amat terbuka. Para anggota cenderung berlatih dalam kelompok-kelompok kecil. Kelompok-kelompok ini cukup banyak jumlahnya, sehingga kurang terkoordinir dengan baik. Setelah itu, AVC memutuskan untuk pindah lokasi latihan di area Walikota Depok.

Pernah Latihan di Walikota Depok ‘Beranda Gedung Dibaleka’

Latihan AVC Depok juga pernah berada di beranda Gedung Dibaleka Walikota Depok. Akses yang mudah dan tempat latihan yang jauh dari keramaian menjadi nilai tambah di lokasi ini. Lokasi ini tidak jauh dari St. Depok baru dan terminal. Berlatih di wilayah milik pemerintah memang harus lebih tertib. Kami terkadang membuat penyesuaian jadwal agar tidak mengganggu aktivitas yang ada. Namun, lokasi ini hanya kami gunakan hingga akhir Januari 2017.

Latihan di Taman Lembah Gurame

Ya kawan, AVC pindah di bulan Februari 2017. Kenapa pindah? AVC membutuhkan suasana baru. Kali ini AVC memilih Taman Lembah Gurame yang sejuk dan lebih nikmat dipandang. Akses ke Lokasi ini cukup mudah loh, dari terminal Depok kawan-kawan bisa naik angkot 01 lalu turun di halte Gurame. Tara~ siap- siap ketemu AVC ya sabtu minggu di sana. Jadwal masuk atau tidaknya AVC biasa kami sounding via media sosial. Jadi jangan lupa follow yaa.

Lahirnya Sistem Kerja ‘AVC’

Menyikapi hal tersebut, di bulan puasa tahun 2012, dibuatlah sistem kepengurusan. Diharapkan dengan sistem kepengurusan ini, proses mengajar, belajar, berlatih biola di AVC di UI jadi berjalan lancar. Hal pertama yang jelas perlu dikelola dengan baik dalam hal ini tentu adalah perihal tutor. Setelah itu kurikulum dan mekanisme belajar pada umumnya. Dan tidak lupa, biaya iuran anggota AVC perlu dipertanggungjawabkan dan  dikelola dengan baik demi kebaikan semua anggota. Sebagai sebuah komunitas resmi, tentu cepat atau lambat akan berhubungan dengan pihak luar. Hal yang juga perlu dipersiapkan.

Saat Mas Wando dan Mas Yudi mengangkat ide ini ke beberapa orang anggota yang potensial menjadi pengurus, ternyata ide ini direspon dengan baik. Akhirnya dibentuklah kepengurusan dengan Bagas sebagai ketua. Perangkat organisasi lain juga segera diisi dengan metode close recruitment. Beragamnya latar belakang ilmu, antusiasme, dan sifat mahasiswa yang umumnya senang berorganisasi membuat kepengurusan berjalan cukup baik. Sistem kerja AVC mulai terbentuk. Dalam waktu tiga bulan, terlihat latihan anggota-anggota sudah mulai dapat ditanangi. Beberapa anggota yang sudah jarang hadir juga kembali muncul.

Hal yang sama juga dicoba di AVC stasiun Depok Baru. Mungkin karena anggota yang terdiri dari anak-anak SD dan musisi jalan, kepengurusan masih belum bisa berjalan dengan baik.

Sistem kerja AVC terus berevolusi agar bisa diadaptasi di manapun. Sehingga diharapkan, kesempatan untuk belajar biola jadi makin terbuka lebar dan merata di segala penjuru Indonesia.  Di Taman Suropati, Mas Yudi pernah berinisiatif mengajar musisi jalanan bermain Biola dengan teknik dan teori. Banyak dari mereka kini sudah jadi musisi profesional, baik tampil maupun mengajar. Berlatih musik beramai-ramai di ruang terbuka, juga terbukti meningkatkan ketertarikan publik kepada musik. Penawaran dan permintaan naik bersama, meningkatkan roda ekonomi kreatif di wilayah tersebut.

AVC punya visi agar apa yang mereka rasakan ini, bisa dirasakan juga di seluruh penjuru Indonesia. Hal itu bukan hal yang mustahil. Sudah ada  AVC Bandung (@AVC_bdg), yang rutin berlatih di Taman Ganesha. Dengan satu visi misi, kekeluargaan yang akrab, dan sistem kerja yang baik, kita yakin cita-cita AVC akan terwujud.

Sistem Kerja: Rutinitas AVC

Prinsip utama AVC adalah semua orang boleh belajar bermain biola. Meski baru tahu tentang AVC, kita bisa bergabung di hari itu juga. Dengan iuran yang murah, kita bisa berlatih bersama-sama dan dibimbing oleh tutor-tutor setiap minggu di hari sabtu. Tentu harus diiringi dengan latihan mandiri setiap hari.

Ketika baru bergabung. Kita akan dikelompokan dengan orang yang setara pengetahuannya dan kemampuannya. Kalau memang belum kenal musik dan not balok sama sekali, bisa langsung diajarkan hari itu juga. Kalau sudah belajar biola sebelumnya dan ingin gabung, akan diarahkan oleh tutor untuk bergabung di kelompok mana.

Materi paling dasar adalah dasar teori musik, membaca not balok, dan teknik bermain biola. Setelah itu dilanjutkan dengan kurikulum biola Suzuki. Mulai dari kelompok yang membahas lagu 1 sampai lagu 3 buku biola satu. Lalu ada kelompok berikutnya yang membahas lagu 4 sampai lagu 6, dan seterusnya.  Setiap lagu di buku Suzuki dirancang untuk memperkenalkan teori musik dan teknik bermain biola yang baru. Tentu hal tersebut, akan dibimbing oleh tutor yang sudah menguasai sebelumnya.

Tutor di kelompok kita berlatih sekarang, akan menilai apakah kita sudah cukup lancar untuk lanjut. Pindah ke kelompok berikutnya, dengan materi yang baru. Bisa jadi semua anggota di sebuah kelompok, akan ‘naik kelas’ bersamaan, bisa juga ada yang masih harus mengulang sampai lancar. Tutor di kelompok selanjutnya, bisa jadi tutor yang juga memegang kelompok kita sekarang. Bisa juga tutor yang baru. Dalam satu hari, memang tidak seterusnya satu tutor siaga memantau satu kelompok. Satu tutor bisa saja memegang dua atau tiga kelompok. Kelompok yang sedang ditinggalkan sementara oleh tutornya tetap berlatih bersama memainkan lagu secara mandiri.

Waktu di hari sabtu tidak hanya dihabiskan untuk berlatih secara kelompok. Akan ada satu sesi, dimana semua anggota AVC akan digabungkan untuk kelas orkestra. Di kelas orkestra ini, akan dibiasakan para anggota untuk bermain sebagai sebuah orkestra. Mereka akan berlatih memainkan lagu yang sudah dipecah-pecah ke banyak bagian suara, yang menjangkau seluruh tingkat permainan biola. Masing-masing akan mendapat porsi yang sesuai dengan tingkat kemampuan bermain biolanya.

 

           Jadwal Latihan Rutin per-Sesi

13.00 – 14.00 : WARMING UP

14-00 – 15.45 : GROUPING

15.45 – 16.00 : BREAK

16.00 – 17.00 : SESI CHAMBER (LATIHAN ORKESTRA DAN HARMONISASI)

 

Sistem Kerja: Tutor

Seorang tutor bertugas memegang kelompok-kelompok latihan di sepanjang sabtu. Di setiap kelompok itu, mereka mengajar materi, teknik, dan memantau latihan kelompok tesebut. Kelas orkestra sendiri juga punya tutor. Tutor lain yang sedang tidak memegang kelas orkestra, menyebar  di tengah-tengah anggota, membantu tutor yang sedang memegang kelas orkestra.

Tutor di AVC pada dasarnya adalah juga anggota AVC. Yang harus juga punya kesempatan untuk mengembangkan permainannya. Untuk itu diadakan hari khusus untuk para tutor. Di hari tersebut, para tutor akan langsung dibimbing oleh tutor yang punya teknik dan teori yang lebih tinggi.

Yang khas dari AVC, adalah terbukanya kesempatan untuk menjadi tutor. Anggota bisa saja mengajukan ke pengurus untuk juga menjadi tutor. Tentu persyaratan paling mendasar adalah apakah secara teknis dan teori sudah bisa memegang sebuah kelompok latihan. Tidak perlu menunggu jadi pemain biola mahir untuk menjadi tutor. Karena yang terpenting, si tutor benar-benar menguasai materi dan teknik kelompok yang akan mereka pegang. Artinya level permainan dan pengetahuan para tutor sendiri juga amat beragam. Pembina AVC-lah yang bertanggung jawab menjaga kualitas tutor dalam memegang kelompok-kelompok latihan.

Atas kontribusinya di AVC, tutor diberikan uang saku tiap bulan sebesar iuran seorang anggota AVC per bulan. Tentu tanpa kehilangan kewajiban untuk membayar iuran. Karena mereka pada dasarnya adalah juga anggota AVC.

Sistem Kerja: Iuran & Keuangan

AVC mengambil spirit koperasi. AVC adalah milik bersama, milik seluruh anggotanya. Untuk itu iuran AVC bukanlah milik seseorang atau pihak apapun, kecuali AVC sendiri.

Iuran AVC digunakan untuk kemaslahatan bersama. Menutupi kebutuhan operasional AVC. Juga untuk mengadakan proyek-proyek konser anggota AVC.

 

Seluruh laporan keuangan dibuka ke publik. 

Silakan Lihat Laporan Keungan AVC Depok melalui Link di bawah ini:

pembukuan avc-3


Fatal error: Uncaught Exception: 12: REST API is deprecated for versions v2.1 and higher (12) thrown in /home/avcwebid/public_html/depok/wp-content/plugins/seo-facebook-comments/facebook/base_facebook.php on line 1273